What Makes A Good Story Good

Hey-yo, what’s up? I hope everything’s good (~ ̄ ̄)~ Okay, sekarang kita akan bahas cerita apa yang benar-benar bagus? Saya tahu kriteria bagus itu berbeda untuk semua orang tapi menurut saya, ini kriteria cerita yang bagus! Saya rangkum ini dari sebuah website, karena saya setuju dengan artikelnya jadi saya mau share dengan teman-teman :) Tapi artikel di website ini ditulis dalam bahasa Inggris. Menurut saya semua isinya bagus, kamu bisa cek artikel asli dalam bahasa Inggris di sini.

Oke, menurut WriterDigest, ada 7 cara untuk membuat cerita yang bagus. Let’s check it out! (p.s: bahasa saya agak kaku supaya makna yang sebenarnya dari artikel tidak hilang. Harap maklumi ya ;D).

#1 pakai kelima indera tokohmu, even more beyond that

source

Kita punya indera penglihatan, perasa, penciuman, pendengaran, dan peraba. Tapi sebagai penulis kita sering sekali hanya menggunakan satu atau dua, yaitu penglihatan dan pendengaran. Padahal we can go beyond that; kita bisa mendeskripsikan lingkungan di sekitar tokoh sehingga ‘feel’ lebih terasa dan kena di hati pembaca. Kalau kamu sudah terbiasa dengan cara ini, congrats! Kamu sudah bisa upgrade kemampuan kamu ke level berikutnya, yaitu memakai lima indera untuk menjelaskan karakter tokoh. Caranya adalah… dengan mendeskripsikan bahasa tubuh tokoh.

Jujur, saya paling suka penulis yang mendeskripsikan bahasa tubuh tokohnya. Saya langsung merasa seperti saya bertemu langsung dengan tokohnya dan belajar mengenalnya lebih dalam. Saya tidak terlalu suka cerita dimana penulisnya langsung menceritakan sifat tokohnya dari A sampai Z. Cerita akan lebih punya kharisma kalau penulis memberi petunjuk implisit yang sederhana dan pembaca mengartikan sendiri. Di kehidupan nyata juga seperti itu; kita berinteraksi dengan orang lewat bahasa tubuhnya. Jadi saya merasa tokoh akan lebih hidup kalau dijelaskan seperti apa bahasa tubuhnya.

Contoh (terjemahan dari artikel yang disadur):

Brian berhenti sejenak sebelum menyalakan rokoknya. Tak lama kemudian ia menghembuskan asapnya ke jendela.

Apa yang kamu dapat dari kalimat di atas, selain informasi kalau Brian merokok? Tidak ada. Karena itu coba kita jelaskan secara spesifik, tapi juga implisit:

Brian berhenti sejenak sebelum menyalakan rokoknya. Ia memegang rokoknya dekat ke tubuhnya, seolah ia tak ingin ada banyak jarak yang tersisa. Tak lama kemudian ia menghembuskan asapnya ke jendela, menghindari tatapan Anne-Marie.

Dari kalimat di atas kita langsung tahu kalau Brian sedang punya masalah dengan Anne-Marie, tanpa perlu ada monolog dari dia atau Anne-Marie.

#2 terima kebodohan tokohmu, and use it

source

Pernah tidak membaca novel yang tokohnya membuat kesal, karena dia buat keputusan yang menurut kita tidak seharusnya dia buat? Kalau begitu, itu artinya tokohnya ‘hidup’. Manusia tidak bersikap rasional setiap saat, kadang-kadang kita mengambil keputusan yang salah walaupun resikonya besar. Tokoh juga seperti itu, dan tokoh seperti itu disukai karena relatable, asalkan motivasinya jelas. Seperti yang sudah saya jelaskan di artikel sebelumnya, kita harus biarkan konflik bertumbuh dari karakter tokoh, bukan memaksakan munculnya konflik dari karakter tokoh. Kalau kamu belum paham, ada baiknya kamu baca dulu artikel saya yang judulnya ‘Cara Menentukan Konflik yang Tepat’.

Nah sifat seperti apa yang dapat membuat tokoh berbuat konyol? Cinta, rasa takut dan obsesi dapat buat seseorang jadi irasional. Umumnya orang yang jatuh cinta, ketakutan atau terobsesi menjadi single-minded dan tidak bisa menilai secara objektif. Contoh yang gampang misalnya seorang ayah yang mendidik dengan keras dan terobsesi agar semua anaknya menjadi insinyur, arsitek atau dokter. Nah, tentu saja pasti ada motivasinya; mungkin saat kecil ayahnya ditekan untuk mendapat salah satu dari ketiga profesi tersebut, tapi gagal, sementara saudaranya bisa, jadi orang tuanya lebih sayang saudaranya tersebut.

Intinya, selidiki aja kelemahan tokohmu, and use that. Mungkin selama ini tokohmu selalu lari dari masalah-masalah di masa lalu, but we all know kalau pada akhirnya konsekuensi dari perbuatan di masa lalu akan menangkap tokohmu ini. Akhirnya tokohmu berada di dalam klimaks konflik, dimana keputusannya akan menentukan kemana ceritanya berjalan. Apakah dia akan terus lari seperti pengecut atau menghadapinya dengan berani, walaupun itu artinya harus berkorban? Nah, jawabannya tergantung karakter tokohmu.

Menurut saya metode seperti ini akan membuat cerita jadi lebih dramatik dan realistis. Bayangkan kalau tokohmu ini seorang pengecut, dan dia memilih yang kedua, tentu setelah konflik ini berlalu dia akan jadi orang yang lebih berani. Inilah tugas konflik yang sebenarnya; mengubah karakter (menjadi lebih baik atau buruk). Don’t you just love that? ;)

#3 forget about being pretty

source

Saya rasa ini paling mengekang saya, dan mungkin beberapa penulis. Saat menulis, kita membebani diri kita dengan berusaha menulis seindah mungkin. Mungkin bagi kita, cerita tidak bisa seutuhnya disebut sebagai ‘cerita’ kalau tidak bagus, entah ‘bagus’ sesuai standar kita atau pembaca. Akibatnya saat menulis kita seperti terikat; kita tidak bebas dan kita terlalu memperhitungkan tiap langkah kita. Ini bertentangan dengan tips nomor dua. Bagaimana tokoh kita bisa leluasa bergerak kalau kita saja menulis dengan kaku? Tanpa kita sadari kita malah membatasi gerak para tokoh kita.

Peduli amat kalau cara menulis ini lebih bagus, cara menulis itu lebih diminati, screw it all. Just be true to yourself. Anggap saja kita masih anak kecil yang belum tahu mana yang baik dan buruk. Just write whatever is in our heart without giving a damn about anything or anyone.

#4 be true to your IQ

source

Pernah tidak, kamu tergoda untuk menyederhanakan ceritamu supaya pembaca lebih mengerti? Ceritamu harusnya lebih complicated, tapi kamu takut yang baca akan lebih sedikit, so you make it simpler. Menurut saya ini merugikan, apalagi kalau ceritanya sampai kehilangan poin utamanya, karena bisa jadi pembaca tidak ‘sebodoh’ yang kita kira. Orang yang cerdas cenderung senang membaca. So, never underestimate your readers.

Hal yang sama berlaku untuk bahasa. Kalau kamu merasa sudah memakai kata yang tepat, tapi kata itu jarang dipakai dan tidak semua tahu artinya, jangan diubah. Dan sebaliknya; kalau kata itu sudah sering dipakai dan semua sudah tahu artinya, jangan diubah hanya karena ingin pamer. Hindari juga keinginan untuk mendeskripsikan sesuatu secara berlebihan, terutama kalau kamu sedang mendeskripsikan action scene atau menjelaskan pemikiran tokoh.

#5 use your best material only when it has a purpose

source

Just because it’s good, doesn’t mean it’s necessary. Mungkin ada sebuah peristiwa/tokoh yang menurut kamu bagus kalau ditulis di dalam ceritamu, tapi kalau peristiwa/tokoh itu tidak relevan atau tidak terlalu penting, lebih baik dihapus. I know it’s painful but soon you can bear with it. Kalau kamu masih tidak tega, kamu bisa improvisasi agar peristiwa/tokoh tersebut juga punya andil dalam cerita. Tapi aku sarankan kamu melakukan ini saat sedang menyusun draft, sehinga tidak mengganggu keseluruhan cerita. Kalau kamu menulisnya di tengah cerita, nanti malah repot mengaitkannya dengan yang lain.

#6 make them laugh

source

This is a challenge, even for me. Kalau misalnya tokoh utama terpeleset pisang dan jatuh lalu wajahnya mencium kue, itu humor. Kadang humor lucu, tapi bisa juga garing. So try writing something witty—lelucon yang harus dicerna dulu, baru bisa dimengerti. Lelucon yang membuat pembaca harus berpikir dulu.
Here’s the key: Kita tertawa saat diberikan perspektif yang baru, yang membuat kita berpikir, “Oh iya juga ya… kenapa dari dulu tidak terpikir?” Biasanya saya menemukannya di meme. Meme (biasanya yang dari 9gag) membuat lelucon dari hal-hal yang selama ini kita lihat tapi tidak kita sadari.

#7 also, make them cry, too

source

When readers laugh and cry while reading the same book, they remember it. But you have to do it in a classy way. Misalnya kamu menulis cerita tentang seorang bocah yang sakit parah dan hanya punya satu teman; anjing peliharaan yang cacat. Lalu suatu hari  anjingnya meninggal karena ditabrak mobil. Memang ceritanya jadi sedih, tapi belum tentu berkesan. Jangan pula memaksakan ceritamu yang tadinya happy-go-lucky jadi mellow. Misalnya tokohmu yang tadinya ceria dan tangguh tiba-tiba jadi cengeng karena suatu insiden.

Untuk membuat perasaan sedih itu lebih terasa ke pembaca, kamu harus coba dari akarnya, dan mengeksekusinya perlahan-lahan. Misalnya film Frozen: dari kecil Elsa berusaha menyembunyikan kekuatannya, karena dia tak sengaja menyakiti adiknya (akar masalah). Karena itu dia freak out saat orang-orang mengetahuinya, dan dia pun lari ke atas gunung untuk menyendiri. Akibatnya, Arandelle terkena musim es (masalah mulai bertumbuh). Saat di istana es, Elsa tak sengaja menyakiti adiknya, di tempat yang fatal pula (masalah memuncak) Adiknya sakit, tapi dia malah menyelamatkan Elsa yang mau dibunuh Hans. Pasti rasanya, ‘Awww…that is so saaad…’

Kuncinya, buat tokohmu hampir dekat dengan tujuan yang ingin diraihnya, tapi saat dia hampir dekat, tiba-tiba masalah bertubi-tubi muncul. Kamu pasti banyak melihat ini di film, tapi justru itu yang membuat film jadi menarik. Jangan lupa; cinta dan anak-anak bisa membuat orang rapuh, jadikamu bisa menggunakannya sebagai ‘senjata’ untuk membuat hati tokoh di dalam ceritamu menjadi rapuh.

Hayo tantang dirimu!  Mana bagian yang menurutmu paling menantang untuk diterapkan dalam ceritamu? Let’s start from that step! Happy writing and good luck!



2 komentar:

Hello there my friends! Feel free to give your :
¤ Opinion
¤ Suggestion
¤ Critic
¤ Story link (so that we can give comment to each other stories!)
¤ Request (if you want me to write something, just ask!)
Remember, I’m also a struggling writer, so I’m perfectly imperfect. Your feedback are pleased =)