Cara Menentukan Konflik yang Tepat

Hey, friends! How’s life? I hope it’s good! Mine is very good, indeed. Merry christmas for everyone who celebrate it! God bless you! The new year is near so prepare your wishes and resolution! Jadi berhubung sekarang lagi liburan, I have a lot of things to share, and a lot of questions to answer! Mari kita lihat pertanyaan dari salah satu teman kita yang berikut ini:



So the question is: how to create a conflict? This is actually a very very very easy question, yet so hard to answer. Kita sebagai manusia, paling jago bikin konflik, betul? Setiap hari selalu aja ada masalah, baik dari dalam maupun dari luar. Kita mahluk yang paling pinter bikin masalah, baik sengaja maupun gak.

Nah untuk menjawab pertanyaan Mbak Eti, kita harus menjawab dulu pertanyaan ini, “Kenapa kita bisa buat konflik?” Jawabannya adalah, karena kita manusia. Manusia selalu buat kesalahan. Manusia tidak bisa mengontrol semua hal, dan kadang-kadang situasi jadi lepas kendali. Yakin deh, walaupun kita mingkem alias diam aja selama seharian, pasti bakal ada masalah. Entah itu teman yang curhat karena baru diputusin, atau tiba-tiba hujan padahal kita baru aja nyuci motor, atau saudara yang marah-marah gak jelas karena lagi bad mood. Nah, itu aja kalau kita diam, gimana kalau kita beraktivitas? Bisa bayangin ga berapa banyak masalah yang bakal muncul dari luar + masalah yang gak sengaja kita buat?

Jadi cara untuk menentukan konflik adalah sebagai berikut :D

Menelusuri dari mana konflik itu berasal

Untuk tahu masalah kita harus telisik dari akarnya dulu. Akarnya konflik adalah para tokoh karena tanpa tokoh, tidak akan ada konflik. Apalagi kalau tokoh protagonis bertemu dengan antagonis, karena punya beda prinsip/karakter, maka muncul konflik. Nah, maka dari itu kita harus menelusuri tokoh kita juga, yaitu dengan cara berikut.

Mengenal karakter tokoh kita baik-baik

Seperti apakah karakter tokoh A? Apakah dia impulsif? Nah, biarkan saja dia impulsif. Jangan kontrol gerakannya. Sebagai penulis, yang kita pikirkan bukanlah, “Seperti apa jalan cerita berikutnya menurut aku?” tapi, “Kalau aku adalah A, apa yang kemungkinan besar akan aku lakukan?” Percaya deh, kalau kamu pakai pertanyaan yang pertama, ceritamu akan jadi kaku. Konflikmu akan nampak dibuat-buat. Alurmu jadi tidak alami. Kamu memaksa A untuk mengikuti gerak jalanmu. Padahal tiap tokoh, baik dari fanfiksi maupun fiksi original, punya aliran sendiri, lho.

Bayangkan saja, misalnya kamu orangnya melankolis, sementara tokohmu orangnya ceria, pemikirannya udah pasti beda, kan? Jadi kalau kamu paksakan prinsipmu pada tokohmu yang ceria, tidak akan ketemu. Akhirnya konflikmu mentok, dan kalau dipaksa malah terseok-seok.

Membiarkan konflik itu tumbuh

Kalau kita sudah kenal karakter tokoh kita, maka konflik itu akan tumbuh dengan sendirinya sesuai dengan kelebihan dan kelemahan mereka. Saya sudah mengalami ini berulang-ulang kali, dan kalau tokoh saya itu beneran hidup, saya pingin peluk cium mereka karena MEREKA SUDAH MEMBANTU SAYA. Iya, ini kebalik banget. Harusnya kita sebagai penulis yang menentukan kehidupan para tokoh. Harusnya kita yang membantu para tokoh untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Tapi terkadang, kita sebagai penulis punya keterbatasan ide. So let them talk to you! Saya seringkali punya ide cerita hanya dari  sampai J, tapi para tokoh cerita saya mengembangkannya dari J sampai Z.

Saya tipe penulis yang cuma bisa buat pembuka sama penutup; kalau masalah isi saya benar-benar blank. Saya sering banget bengong di depan laptop saat menyusun draft, tidak tahu mau tulis apa lagi karena semua ide terasa klise. Tapi kemudian saya renungkan seperti apa sifat karakter, dan kesalahan apa yang paling mungkin mereka buat. Akhirnya konflik jadi panjang (dan malah kebanyakan), dan itu masih dianalisa dari sudut pandang satu tokoh!

Sama seperti manusia yang sifatnya kompleks dan rumit, tokoh juga begitu. Ada 1001 masalah yang seorang tokoh buat. Apalagi kalau tokoh tersebut punya kelemahan khusus, kemungkinannya bisa bertambah dua kali lipat. Jadi intinya; jangan terlalu banyak mikir dan biarkan para tokoh berbicara! Believe me, your characters are professional troublemakers!

Jadi kalau kamu stuck saat ingin menulis konflik, jangan berhenti. Just think: What would logically happen next? Tokohmu pasti bisa menjawabnya dengan baik :)

Thank you for asking ya Mbak Eti, saya harap pertanyaan saya bisa membantu. Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, jangan sungkan-sungkan ya!


9 komentar:

  1. Ah, makasih! Ini membantu bangeet.. Bener juga kalo aku ngebayangin jadi tokoh ceritaku, aku gabakal berbuat apa yang dia perbuat. Dan kalo ngikutin apa yang bakal aku perbuat, bakalan ngebosenin banget pasti..

    BalasHapus
  2. Wah, tulisannya menginspirasi banget dan gaya menulisnya juga menarik, eye cathcing.

    BalasHapus
  3. Pantesan ide ide gw selalu kerasa klise dan konfliknya ga nyampe, ternyata gini caranya biar tulisan gw jadi😟
    Makasih cuy

    BalasHapus
  4. Pantesan ide ide gw selalu kerasa klise dan konfliknya ga nyampe, ternyata gini caranya biar tulisan gw jadi😟
    Makasih cuy

    BalasHapus
  5. awalnya nggak sengaja buka ini saat sedang nyari materi buat UN Selasa depan, dipikir situs ini isinya penjelasan materi yang sedang saya cari. tapi ternyata pas dibaca, isinya lebih diperuntukkan untuk orang yang gemar menulis ataupun bahkan penulis. dan saya senang sekali bisa nyasar ke sini, sangat2 membantu saya yang saat ini sedang buat cerita dan terkendala masalah mengenai konflik. thanks a lot!

    BalasHapus
  6. ^Wah nasib kita sama..

    BalasHapus
  7. makasih banyaakk ^^
    nggak sengaja nyasar ke blog ini dan menemukan tips yang keren abis. Sangat terbantu karena selalu stuck setiap menentukan konflik cerita yang natural dan nggak ngebosenin. Thanks a lot!

    BalasHapus

Hello there my friends! Feel free to give your :
¤ Opinion
¤ Suggestion
¤ Critic
¤ Story link (so that we can give comment to each other stories!)
¤ Request (if you want me to write something, just ask!)
Remember, I’m also a struggling writer, so I’m perfectly imperfect. Your feedback are pleased =)