5 Penyakit Penulis yang Berbahaya + Cara Membasminya!

Source
Ada 5 penyakit universal yang dialami semua penulis di dunia ini! Sayangnya, penyakit itu menjangkiti korbannya tanpa disadari, dan beberapa bisa menular kemana-mana. Yuck! Penyakit itu juga bisa membawa penyakit lanjutan. Jangan-jangan… kamu sudah kena? [ insert horror movie background music here ] Oke, tanpa membuang waktu demi keberlangsungan kesejahteraan para penulis di masa depan, mari kita bahas 5 Penyakit Penulis yang Berbahaya & Cara Membasminya! Kita mulai dari yang paling tidak parah sampai yang paling parah…


#5 Tergoda Menulis Untuk Menyenangkan Pembaca

source

Tingkat berbahaya: rendah sampai medium

Menular / Tidak Menular

Gejala: menulis cerita yang sesuai selera pasar, tapi tidak sesuai isi hati

Penyakit lanjutan: jika kamu terkena penyakit ini, hadapilah; suatu saat kamu dapat tergeser dari pasar karena pembaca telah bosan atau muncul saingan baru. Ini memang dihadapi oleh setiap penulis, tapi kalau kamu memang tidak ada hati untuk menulis cerita seperti jenis tersebut, tentu kamu mudah tergeser. Saya sudah pernah melihat novelis yang karyanya bagus, tapi terpaksa mengompromikan prinsipnya supaya sesuai pasar. Hasilnya? Ceritanya aneh dan terlihat seperti dipaksa ditulis sehari sebelum deadline.

Penyakit lanjutan yang paling parah adalah, kamu bisa terhambat dalam menemukan jati diri sebagai penulis karena tidak menulis dari hati. Karena tidak bisa memenuhi ekspektasi pembaca, kita pun menghakimi diri sendiri dan berpikir bahwa kita bukanlah penulis yang baik. Padahal sampai kapan pun kita tidak dapat menyenangkan semua orang, apalagi orang yang seleranya beda dari kita. Bahkan J.K. Rowling pun tidak dapat menyenangkan semua orang.

Solusi: ada seorang penulis senior di FFN yang pernah menulis statusnya seperti ini; “Berkarya komersil wajib mengetahui target marketmu. BUT, the market is fickle. Jadi berkaryalah dengan hati, dari hati, untuk dirimu, niscaya karya itu tersampaikan cintanya kepada orang-orang sehati. Jadi cobalah untuk tidak membuat karya komersil hanya karena trend A sedang marak, atau genre B sedang populer, atau tipe pasangan C menghasilkan lebih banyak uang karena peminat pasarnya gede, tapi gak ada hati yang tertuang dalam karya lo itu. Sayang sekali.”

Saya rasa status ini sudah mengucapkan semua yang ingin saya katakan. Jadi sisanya tinggal kita yang interprestasikan masing-masing di dalam hati kita :)

#4 Cepat Puas

source

Tingkat berbahaya: medium

Menular / Tidak Menular

Gejala: tergoda ingin berhenti (belajar) menulis karena sudah mendapat pengakuan / penolakan berulang kali

Penyakit lanjutan: jadi gampang menyerah. Kalau kita terbuai dengan pujian untuk cerita kita di internet, saat kita mengirim cerita kita ke penerbit dan mendapat kritik, kita bisa saja langsung menyerah. Mungkin kita merasa kita sudah mempelajari semuanya, jadi apa lagi yang mau dipelajari? Akhirnya kita menyerah untuk mencari sisi dari cerita kita yang masih bisa dieksplor lebih dalam. Atau karena cerita kita sudah sering kali ditolak penerbit atau dikecam pembaca, kita pun langsung ingin menyerah.

Solusi: Simply remind yourself that sampai tua pun kita pasti akan terus belajar. Akan selalu ada hal baru untuk dipelajari kalau kita mau melihat secara jeli. Kalau kita sudah menyelesaikan suatu tantangan dalam menulis, godaan untuk merasa puas jadi lebih besar. Jadi selalu buat tantangan baru untuk ditaklukkan. Coba tulis cerita dari genre yang tidak familiar, atau tulis cerita dengan tokoh yang kamu tidak suka sifatnya, dll. Jadi kamu selalu punya materi baru untuk dipelajari.

#3 Malas Atau Senang Menunda

source

Tingkat berbahaya: medium sampai gawat!

Menular / Tidak Menular

Gejala: mulai tidak semangat dalam menulis dan menunda cerita yang seharusnya diselesaikan dari dulu.

Penyakit lanjutan: jadi ingin serba cepat dan mudah. Karena tidak mau merasa dibebani dengan cerita, akhirnya cerita yang seharusnya 10 chapter dipotong jadi 7 chapter. Alur cerita dibuat cepat, dan akhirnya pembaca kesulitan untuk masuk ke dalam cerita. Kadang bahkan ada beberapa penulis yang berhenti menulis (walaupun hanya sementara) karena penyakit ini :’)

Solusi: Kalau kita punya motivasi yang kuat, pasti kita bisa ‘sembuh’ dari penyakit ini. Kalau saya, biasanya saya mengumpulkan kata-kata mutiara untuk penulis yang bisa memotivasi saya. Saya berusaha fokus untuk menyelesaikan cerita, walaupun hasilnya jelek, karena nanti bisa direvisi. Kalau teman saya yang lain, biasanya memberi hadiah kalau sudah berhasil mencapai target, seperti membeli makanan favorit, download game di HP sepuasnya, dan sebagainya. Kalau kamu punya sahabat baik, kamu bisa minta sahabatmu untuk selalu menyemangatimu. Atau kamu juga bisa pasang reminder di HP supaya menulis di jam tertentu (waktu dimana kamu sudah santai dan bisa menulis). Saya paling efektif menulis saat subuh, karena sunyi dan pikiran belum suntuk. Just shoo that laziness!

#2 Iri

source

Tingkat berbahaya: gawat sampai gawat darurat!

Menular / Tidak Menular

Gejala: selalu membandingkan prestasi/cerita sendiri dengan penulis lain.

Penyakit lanjutan: jadi sombong, rendah diri, atau yang paling parah, ingin meniru kemampuan orang lain. Kita pun tidak bisa senang saat melihat orang lain senang.

Solusi: Kita sadari atau tidak kita sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Kalau itu memacu kita untuk jadi lebih baik, why not? Tapi kalau hanya membuat kita minder atau ingin meniru orang lain. Believe it or not, saya orang yang gampang sekali iri. Sebutkan saja prestasimu, pasti saya langsung iri. Tapi itu dulu, karena sekarang saya sadar kalau iri itu penyakit yang paling menyebalkan. Emosi dan energi saya terkuras habis, tapi saya tidak dapat apa-apa. Dapat ganti rugi pun tidak. Akhirnya saya hanya bisa menyesali waktu yang saya habiskan untuk iri.

Saya dulu selalu iri dengan penulis FFN yang setahun lebih tua dari saya tapi sudah mendapat pengakuan dari mana-mana. Saya pun tergoda untuk menjadi seperti seorang author senior, sebut saja A. Akhirnya saya dimarahi oleh temannya yang memang ceplas ceplos karena, menurut temannya ini, sampai kapan pun kita tidak akan pernah seperti A. Semua orang punya karakter yang beda, jadi pasti gaya bahasanya beda.

Teman saya yang lain juga bilang hal yang sama. Dia pernah ingin meniru gaya bahasa penulis senior, tapi hasilnya malah aneh. Jadi dia belajar untuk mencintai kelebihan dan kelemahannya sebagai seorang penulis. Hasilnya? Karyanya diakui, dan dia sudah menerbitkan berbagai novel.

Kadang kita iri karena kita beranggapan kalau orang lain sukses, maka kesempatan kita untuk sukses akan semakin kecil. This is so not true, karena kalau ya, maka Arthur Conan Doyle, William Shakespeare dan J.K. Rowling sudah mengambil jatah kesuksesan semua penulis di dunia. Pasti profesi penulis sudah punah. Tapi buktinya, kita masih bisa menikmati karya penulis baru seperti Andrea Hirata, Tere Liye, Dewi Dee Lestari, Stephenie Meyer, dan Veronica Roth. Jadi hapus aja pikiran buruk seperti itu and be happy whenever someone else is happy!

So instead of wasting your time on somebody else, let’s just focus on yourself! Kalau kita membandingkan diri dengan orang lain, tidak akan ketemu titik temunya, karena kita tidak dapat dibandingkan. Kita memang sama-sama Homo Sapiens, tapi beda versi. Jadi kalau kita ingin menyamai kemampuan orang lain, itu sama saja kita mengatakan bahwa kita tidak unik dan kita hanyalah replika alias bayangan dari orang lain, which is not true. Let’s just do our best, shall we? :D

#1 Selalu Membatasi Kemampuan Diri Sendiri

source

Tingkat berbahaya: gawat darurat!

Menular / Tidak Menular

Gejala: sering mengucapkan kalimat yang membatasi diri sendiri, baik sadar maupun tidak sadar, seperti “Ah, aku gak bisa.” “Kamu sih bisa, aku?” “Aku gak mungkin bisalah, aku tahu diri kok, kalau aku ini gak bisa apa-apa.”

Penyakit lanjutan: kamu jadi selalu berada di zona nyaman dan tidak mau mengeksplor hal-hal baru. Akibatnya kualitas cerita tidak bisa berkembang karena mental sudah terlebih dahulu melabeli cerita tidak akan bisa menjadi bagus. Kalau pun berkembang, agak lambat dan tidak seefektif kalau penulisnya tidak membatasi kemampuan diri.

Solusi: Kalau kamu punya kebiasaan merendahkan diri, jangan berkecil hati dulu. You’re not alone, dan saya rasa penulis paling terkenal pun pasti pernah mengalaminya. Saya juga paling demen membatasi kemampuan diri. Kenapa? Karena membatasi diri itu lebih gampang daripada mengasah kemampuan diri. Belum apa-apa saya sudah yakin saya tidak akan bisa. Akhirnya saya jadi malas menulis karena muak melihat cerita saya yang tidak sebagus penulis senior. Bagi saya, sia-sia aja menulis, toh ujung-ujungnya tidak akan bisa sebagus mereka.

Saya pun berhenti menulis selama beberapa tahun, dan saat saya kembali menulis, saya sadar kalau cerita saya cukup bagus (at least menurut standar saya). Saya jadi menyesal, kalau saja saya tidak buang-buang waktu memerhatikan orang lain dan fokus pada kemampuan saya, pasti cerita saya sudah berkembang pesat.

Jadi jangan pernah mengucapkan kalimat yang menjatuhkan diri sendiri. Itu tidak menarik, dan tidak akan membuat iba siapapun. Itu merugikan, dan hanya membuat sugesti negatif di dalam pikiran. Teman seperti mana yang lebih kamu senangi; teman yang selalu mengeluh, atau teman yang selalu mengucapkan kata-kata penuh semangat? Kalau saya, yang kedua. Karena hidup sudah susah, untuk apa saya mendengar keluhan selama 24 jam? Apalagi kalau mengeluhkan hal-hal sepele. Kalau mengeluh sekali-kali ya normal, tapi kalau setiap saat? Lebih baik saya mendengar kata-kata yang menghibur, jadi saya pun termotivasi.

Intinya kalau kita punya energi untuk bilang, “Aku tidak bisa.”, berarti kita juga punya energi untuk bilang, “Aku bisa.” Malah, energi untuk bilang “Aku bisa.” lebih sedikit karena hanya terdiri dari dua kata. Saya selalu mengulangi kalimat “Aku bisa” di dalam hati kapan saja saya ingat (dan kadang saat mandi saya teriak kencang-kencang), dan efektif. Cerita saya memang tidak langsung selesai, tapi saya langsung punya kekuatan untuk menulisnya ;) Ganbatte!

Questions of the Day

Kamu sudah terjangkit penyakit yang mana saja? Apa trik khusus kamu untuk menyembuhkannya? Semoga cepat sembuh dan terus aktif menulis, my friends!

20 komentar:

  1. Artikel yang bagus dan semua pointnya benar, saya senang ... sekali :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Glad that I can make you happy ^o^ Thank you for reading!

      Hapus
  2. thanks Asha ;)))
    membantu sekali~

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 sayang, glad I can help you! :D

      Hapus
  3. saya terkena semua penyakitnya, apa yang harus saya lakukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ikuti aja solusinya hehehe, dan jangan biarkan penyakitnya mempengaruhi kamu :)))

      Hapus
  4. Hello.. master google membawa ku kemari.. :)
    this so great..
    Aku lihat beberapa post kamu dan sangat memotivasi^^

    Izin baca ya,... thank you~

    BalasHapus
    Balasan
    1. *cium peluk mbah google //heh thank you! glad to hear it. iya baca aja gausah pakai izin :')))

      Hapus
  5. Kalau aku kena yang menunda-nunda heuheu, memang yang namanya malas itu enak banget, tapi merugikan banget. Tapi sekarang lagi tahap ngehukum diri sendiri dengan nggak-boleh-nunda-apapun. Doakan berhasil yaa! :3

    Anyway, tulisannya bagus. Dan, bener banget. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah aku juga sering kena yang menunda2 kok. malah nulis artikel di blog itu termasuk bagian menunda2 untuk menulis cerita X'D tapi aku sadar aku malah kena batunya, jadi aku jera :'3 pasti bakal berhasil kok! yang penting niat kita tetap kuat! makasih untuk pujiannya, makasih juga udah baca dan komen ya :D

      Hapus
  6. makasi infonya, semua poin-poinnya bener ngejelasin diri ini kenapa ga sempet ngurusin blogging dan ngelanjutin nulis.. u.u kudu kembali semangat !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. yep bener banget, kudu kembali semangat! :D sayang kan blognya jadi sepi karena dianggurin XD semangat!!!

      Hapus
  7. Bener, dan setelah saya cari obat di apotek terdekat, nggak ada. Susah emang buat nulis sesuatu yang bagus dan layak dibaca. Tapi, tips-tipsnya itu cukup bermanfaat.

    Edwinfauqon.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih, makasih juga udah datang untuk baca dan komentar :)))

      Hapus
  8. Penyakit malas itulah yang paling berbahaya sekali. :))

    BalasHapus
  9. Aku suka artikel kamu, infonya bermanfaat sekali & sangat memotivasi aku buat nyembuhin penyakit iri yg suka kambuh ini #maapjdcurhat wkwk :))

    BalasHapus
  10. postingan nya sangat sangat bagus, menghibur aku dan memotivasi aku buat bangkit lagi (untuk menulis cerita).
    makasih kak buat semua solusinya. ^^

    BalasHapus
  11. "Jadi jangan pernah mengucapkan kalimat yang menjatuhkan diri sendiri. Itu tidak menarik, dan tidak akan membuat iba siapapun. Itu merugikan, dan hanya membuat sugesti negatif di dalam pikiran." paling suka sama yang ini. ijin share kalimat ini ya:)#AkuBisa

    BalasHapus
  12. boleh minta email Asha?:)

    BalasHapus
  13. Terima kasih. Artikelnya (sungguh-sungguh) membantu :)))

    BalasHapus

Hello there my friends! Feel free to give your :
¤ Opinion
¤ Suggestion
¤ Critic
¤ Story link (so that we can give comment to each other stories!)
¤ Request (if you want me to write something, just ask!)
Remember, I’m also a struggling writer, so I’m perfectly imperfect. Your feedback are pleased =)