(Fanfic Review) Insane



[ Ulasan ini adalah salah satu hadiah untuk pemenang tantangan menulis fanfiksi yang saya adakan tiap dua minggu sekali, dengan tema “Saat Surat Ini Sampai Mungkin Aku Telah…” ]

“Insane”

Sebuah fanfiksi Kuroko no Basuke yang ditulis oleh Harumi Miseta-Ichimase Kitara dengan nama pena Harumi Kitara
Fanfiksi dapat di baca di sini
Selamat membaca, dan jika berkenan kamu juga boleh meninggalkan review :)

Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada kak Mikan, yang telah berbaik hati kembali berkontribusi memberikan fanart untuk pemenang biweeklyprompt kali ini.

Saat saya menentukan tema biweeklyprompt kali ini, saya tahu kemungkinan besar banyak yang mengonotasikannya dengan kematian. Walau begitu tetap ada author inovatif yang mengubahnya menjadi humor dan saya suka itu, membuat saya sempat galau dalam menentukan siapa pemenangnya. Di penghujung hari, pilihan saya jatuh kepada Harumi, yang terbukti menonjol dalam menunjukkan kualitasnya sebagai seorang penulis.

Harumi mengatur sebuah cerita yang apik dengan alur maju, dimulai dari saat Akashi cilik ingin mengekang Midorima yang juga masih bocah. Sebuah permulaan yang tak lazim—sang tokoh utama yang tergolong belia tidak puas hanya memilikinya, ia ingin mengendalikan. Apakah Akashi sudah jatuh cinta ataukah…? Tidak ada yang tahu. Harumi sengaja menyimpannya untuk ia beri tahu di bagian lain, jika momennya telah tepat.

Takdir menuntun mereka untuk kembali bertemu beberapa hari kemudian, di lapangan basket SMA Teikou. Akashi tak mampu melupakan, terlebih lagi saat ia mendapati Midorima terlihat semakin atraktif—tampan, berbakat dalam basket dan bertalenta dalam memainkan piano—membuatnya semakin menginginkan pemuda tersebut. Seakan Midorima punya kharisma tak kasat mata yang membuat Akashi nyaris melepaskan topengnya.

Sayang, kharisma tersebut berbalik menghujam pemiliknya. Kharisma yang membutakan para insan tersebut mengundang Akashi untuk melewati batas. Yang membuat cerita semakin rumit, reaksi Midorima mengundang Akashi untuk berbuat semakin jauh, semakin liar dan semakin ekstrim. Terlebih lagi saat Midorima menjatuhkan pelariannya pada Takao, pria yang di mata Akashi tak lebih baik darinya.

Cerita ini bisa dibilang cukup klise—Gary Stue, cinta segitiga dan obsesi tak beralasan. Namun saya menyukai bagaimana cara Harumi membawakan ceritanya. Kisahnya rapi, runtut, dan cukup deskriptif.  Walau begitu cerita tersebut tidak memberikan kesan kaku atau bertele-tele, malah sebaliknya. Ceritanya terasa alami mengalir kemana muara asalnya.

Harumi tidak terburu-buru dalam menyelesaikan ceritanya, terefleksi dari tindakan Akashi dan Midorima. Semua telah diatur sedemikian rupa sehingga cerita tidak terasa seperti dipaksa untuk berjalan lebih cepat dari seharusnya. Sadar atau tidak, penulis telah menciptakan semacam ritme yang membuat saya sebagai pembaca cepat merasa nyaman dan dapat mengikuti dengan baik.
Kritik saya adalah; Harumi memang telah mengeksplorasi perasaan Akashi dengan cukup baik, walau sayangnya lebih dominan konsep tell, not show sehingga tidak ada unsur misterinya. Saya pasti akan senang sekali kalau saya tidak tahu apa motivasi Akashi mengejar Midorima. Saya rasa kalau misalnya ada semacam plot twist cerita ini akan menjadi manis sekali.

Saran saya; saya harap Harumi bisa mengeksekusi sisi psikologis Akashi, karena jika ya, cerita ini akan menjadi psychological tragedy, sebuah perpaduan yang indah, bukankah begitu? Saya suka konsep sebab-akibat, it never gets old. Kenapa Akashi bisa punya karakter obsesif? Dan kenapa Midorima? Apa dia murni mengejar Midorima karena alam bawah sadarnya atau memang dia sendiri yang memilih Midorima? It won’t hurt to tell Akashi’s past a little bit, would it? 

Pesan untuk Harumi: I haven’t know you for long so I can’t really tell anything meaningful. You surely have a potential to be a succesful writer. Looking forward to see another stories of yours! I hope this review is enough to be the mood booster :) Let me close this review with a favorite quote of mine.
“If you do not breathe through writing, if you do not cry out in writing, or sing in writing, then don't write, because our culture has no use for it.”
Anaïs Nin
It’s all up to you, dear. Ganbatte! 

Sekian review saya kali ini, saya minta maaf jika ada kesalahan. Thank you and have a nice day! :)

0 About What They Said:

Posting Komentar

Hello there my friends! Feel free to give your :
¤ Opinion
¤ Suggestion
¤ Critic
¤ Story link (so that we can give comment to each other stories!)
¤ Request (if you want me to write something, just ask!)
Remember, I’m also a struggling writer, so I’m perfectly imperfect. Your feedback are pleased =)