Tips Agar POV 1 Tidak Garing

Source
Hola! Como esta? Sudah lama gak jumpa jadi kangen *peluk cium* Blog ini umurnya setahun tepat bulan ini, jadi mohon saran dan kritiknya supaya blog ini bisa terus berjalan ya <3 Saya akan terus berjuang membantu sebisanya >:D Saya ngerti banget rasanya jadi penulis yang doyan galau ngeliat ceritanya, lol.

Anyway saya mulai jarang online di facebook, soalnya mau fokus sama sekolah dan menyelesaikan projek menulis yang tertunda :’) Kalo mau ngobrol, bisa lewat twitter atau Line (ID: ashadrey).

Anyway, dulu banget ada yang request beginian, lho...


Jujur, waktu itu saya bingung jawabnya gimana. Jadi saya screenshot dan… saya lupakan #heh. Buat yang belum tahu, POV 1 itu sudut pandang orang pertama, yang pakai kata ganti ‘aku’, ‘saya’, ‘gue’, dan sebagainya. Sebenarnya POV 1 itu seru dan gampang untuk dipakai lho, but it’s a little tricky. 

Oke deh, anonim, saya coba jawab pertanyaan kamu ya…


Gimana sih biar gak garing?


Tentunya kamu harus cari tahu, apa yang bikin POV 1 itu jadi garing. Apa karena sifat tokoh utamanya yang biasa aja? Atau karena ceritanya yang datar? Kalau cerita atau tokohmu ‘biasa aja’, mending jangan pakai POV 1. Bisa jadi tambah hambar. Kalau pingin cari aman, pakai POV 1 saat kamu yakin unsur instrinsik ceritamu yang lain udah cukup menunjang. Misalnya tema, penokohan, dan gaya bahasamu udah bagus, aku rasa gak masalah pakai POV 1. Garingnya gak akan begitu kerasa.

Menurutku, POV 1 jadi garing itu kalau kita memperlakukan tokoh seperti boneka. “Oke, tokoh A, habis ini kamu bakal berbuat ini. Lalu tokoh B berbicara itu. Habis itu kita pindah ke scene selanjutnya.” Akhirnya gaya bahasa terasa kaku. Coba deh tantang dirimu untuk biarkan si tokoh ‘hidup’. Bayangkan kalau si tokoh jadi manusia beneran, apa sih yang akan dia lakukan? Dia bakal ngomong apa? Anggap aja POV 1 itu kayak wadah curhat tokoh, biarkan si tokoh bergerak sesukanya. Dijamin ceritamu terasa mengalir dan ngena di hati pembaca.


Gimana supaya gak terkesan sok tahu?

Maksud kamu dari sok tahu ini apa? :’D Aku asumsikan maksudnya itu gimana supaya gak terkesan tahu semuanya ya. Cara terbaiknya adalah pakai sudut pandang orang pertama pengamat, bukan pelaku. Karena pengamat hanya sebatas tahu apa yang ia lihat, dengar, rasakan, dll. Sedangkan pelaku tahu semuanya, bahkan sampe ke isi hati. Dan juga, seperti yang udah kubilang, coba deh untuk selektif dalam memberi info.

Banyak yang bilang kalo POV 1 itu garing karena bertentangan dengan konsep “Show, don’t tell.” Mungkin karena kita membeberkan terlalu banyak rahasia, akhirnya pembaca gak tertarik lagi lanjut. Ibaratnya gini, kamu denger gosip ada anak baru yang cakepnya sama dengan member EXO, atau Miracle of Generation di Kuroko no Basuke. Kamu jadi kepo berat pingin tahu gosipnya bener apa gak. Tapi setelah teman kamu yang udah ngeliat ceritain semuanya, apa kamu masih bakal penasaran? Kemungkinan besar gak. Apalagi kalau ternyata si anak baru gak secakep yang diceritakan #ngek.

Tapi beda lagi ceritanya kalau kamu selektif dalam memberi tahu info. Gimana kalau misalnya temenmu kasih info setengah-setengah? Pasti kesel kan? Tapi di sisi lain, kamu juga penasaran. Nah, kita harus bisa buat pembaca ‘kesal’. Karena itu artinya pembaca sudah jatuh hati sama cerita kita dan tertarik untuk melanjutkan.

Nah, pas banget hari ini saya ketemu draft yang menurut saya bisa dipampang. Let’s check it out!

.

.

.
Peter Williams is that kind of perfect guy. 


Kau tahu, tipe pria yang melakukan segalanya dengan benar. Ia bahkan membuat kesalahan dengan benar—ukh, aku tahu istilah itu tidak ada tapi ayolah, kau mengerti maksudku. Ia anggun untuk seorang pria—aku tak tahu kata apa yang tepat untuk mendefinisikannya, bisa tolong bantu aku?—tapi tak ada yang pernah menilainya metroseks atau homoseks.

Ia bukan bintang, melainkan matahari; semua orang mengitarinya, literally. Mulai dari atasan, rekan kerja, penjual hotdog di depan kantornya, pemilik kios koran di dekat apartemennya, penjaga loket karcis di bioskop yang rutin dikunjunginya seminggu sekali, you named it, he got it. Tiap insan memujanya dengan pandangan yang jelas sekali memancarkan kekaguman. 

Yuck.

Tunggu sebentar, bukankah matahari juga bintang? Aish. 

Intinya, dia adalah tipe pria yang paling tidak aku sukai di dunia ini. Oh come on, don’t you hate people like that, too? It’s so Edward Cullen. Memangnya dia apa, boneka Ken? Tapi entah kenapa ada sesuatu di dalam dirinya yang memecah stereotip yang selama ini kupegang dengan teguh. Umumnya kebaikan yang berlebihan membuatku jijik namun sikap formalnya sama sekali tidak membuatku muak. Mendekati pun tidak.

Ada sesuatu yang salah dengan dia… dan aku. 

Aku tidak akan terkejut jika suatu hari ia mengaku bahwa ia ahli waris sebuah kerajaan kecil di Monako atau dia masih perjaka—he’s a good kisser, though. Aku pernah menanyainya saat kami menyantap yogurt sambil menonton stand-up comedy di apartemen miliknya. Ia hanya tertawa, entah karena si komedian di televisi, pertanyaanku atau perpaduan keduanya.

Aku terus menunggu sampai malam mengatupkan kelopak matanya. 

Ia tak kunjung memberikan jawabannya.

Jadi aku tak pernah bertanya lagi. 

Hanya saja aku punya firasat bahwa enigma yang ia simpan adalah poros yang membuat hidupnya tetap stabil. Seolah tubuhnya akan retak dan jatuh berserakan jika seseorang merebut keystone miliknya. Seakan jika ia membocorkannya, maka dirinya akan ikut lebur bersama rahasianya yang telah terkuak.

Dan hidupnya tak akan pernah bisa sama lagi. 

Astaga, dari mana perumpaan itu muncul. Kurasa telenovela yang kutonton kemarin malam membuatku sedikit melodramatis. Salahkan saja Enrico yang meninggalkan Isabella demi si penyihir Catarina. Cuih.

Meskipun begitu, tatapan yang polos dan sikapnya yang naif membuatku bertanya bagaimana ia bisa bertahan sejauh ini di dunia yang liar. Is he some kind of two-faced manipulative jerk? Ups, aku rasa aku terlalu berlebihan. 

Yang jelas, dia aneh.

Tapi kurasa aku lebih aneh lagi karena setuju menjadi kekasihnya. 

Well, a little adventure won’t hurt, don’t you think? ‘Cause curiosity kill the fat black cat.
.

.

.

Nah, mungkin beberapa dari kamu agak pusing ya karena bahasanya campur aduk gitu. Memang gaya bahasanya kayak bahasa novel terjemahan. Nah, apa aja sih yang kita dapat dari cerita di atas? 

1. Tokoh punya kepribadian yang menonjol. 

Si tokoh tipe yang up beat, happy-go-lucky dan sarkastik. It’s like the type of person you will notice in a crowd. Dan justru karena ini POV 1, si tokoh lebih bebas dan blak-blakan dalam menyampaikan pendapatnya. Bahasanya kayak gado-gado, tapi lugas, apa adanya dan sederhana. Ibaratnya kita lagi curhat sama sahabat, yah gak pakai filter, tancap gas aja. Kalau kita bisa mengolah, ini malah jadi kelebihan yang membuat pembaca terhibur. Lalu apa cuma tokoh yang ceria aja yang cocok untuk POV 1? Gak juga. Tergantung kitanya aja gimana menuliskannya. 

2. Terasa lebih personal. 

Dari gaya penuturan si tokoh utama, kita jadi tahu kalau si tokoh ini orangnya seperti apa, apa opininya, apa kesukaannya, dan sebagainya, padahal ia memberi tahu secara tersirat. 

3. Penulis membuat cerita ‘gantung’. 

Penulis gak langsung beberkan semuanya, terbukti dari paragraf yang ada kalimat, “Hanya saja aku punya firasat bahwa enigma yang ia simpan adalah poros yang membuat hidupnya tetap stabil…” dan gerak gerik Peter yang tak mau menjawab pertanyaan si tokoh utama. Penulis juga gak beri tahu langsung gimana Peter dan si tokoh utama bertemu, kenapa mereka bisa berpacaran, dan sebagainya. Masih ada banyak info yang dipendam untuk bikin penasaran pembaca, dan siap diberitahu perlahan namun pasti.

So that’s all for today! Any comments will be appreciated lho, so don’t be afraid to shout out your opinions! I’m waiting! Thank you for reading and keep writing!

source

5 komentar:

  1. waaah, nice tips sha. thank youuu!
    aku mengalami masalah yang sama sebenarnya, baru tau setelah baca ini, dulu bingung karena aku nggak bisa nge-pin point di mana, hehe

    BalasHapus
  2. @amusuk: aduh kak aku senang bacanya X'D gak nyangka bisa bantu kakak. semangat terus dalam nulis pake POV 1 ya kak, ditunggu karya2nya ;)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Hello there my friends! Feel free to give your :
¤ Opinion
¤ Suggestion
¤ Critic
¤ Story link (so that we can give comment to each other stories!)
¤ Request (if you want me to write something, just ask!)
Remember, I’m also a struggling writer, so I’m perfectly imperfect. Your feedback are pleased =)