Jenis-Jenis Gaya Menulis (Dengan Contoh)

Source
Halo :D Kali ini Saya mau bahas jenis-jenis gaya menulis beserta dengan kelebihan, kelemahan, genre yang cocok pada umumnya, cara menyiasati kelemahannya dan contohnya. Kenapa saya menulis ini? Karena saya lihat banyak penulis yang belum menemukan gaya menulis khas-nya. Sayangnya, beberapa penulis lebih milih ‘copas’ gaya nulis penulis lain dari pada mencari gaya menulisnya sendiri. Ini sayang sekali, padahal kalau kita punya gaya bahasa khas, pasti kita jadi mudah dikenali :)

Gaya menulis setiap orang pasti berbeda, karena kita dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Jadi kalau kamu punya gaya menulis yang menurut kamu ‘beda sendiri’ dan tidak seperti gaya menulis orang pada umumnya, tidak apa-apa. Anggap saja itu sudah jadi nilai plus, jadi kamu tidak perlu repot mencari ciri khas yang akan membedakanmu dari penulis lain :)

Sebaliknya kalau kamu merasa gaya tulismu terlalu ‘plain’, seiring waktu gaya tulismu akan semakin berkembang. Saya dulu juga mengalaminya, gaya menulis saya berantakan. Tapi akhirnya gaya menulis saya jadi berkarakter, walaupun memang masih butuh polesan di sana sini.

Nah, langsung aja kita bahas topiknya ya :3


#1 Implisit


Implisit, atau tersirat, artinya kamu tidak menyampaikan isi hatimu secara langsung. Kamu menggunakan bahasa lain untuk menyampaikannya. Kunci dari gaya menulis ini adalah permainan kata (world play) dan majas.

Genre yang cocok pada umumnya : romance, angst, hurt/comfort, atau cerita yang temanya agak berat.

Kelebihan : Permainan kata itu bisa jadi nilai plus untuk ceritamu dan bikin pembaca tidak bosan. Selalu aja ada cara unik untuk mengungkapkan sesuatu yang biasa. Saya sering merasa ‘wow’ kalau baca frase yang tidak pernah saya temukan di cerita lain, saya langsung memberi jempol kepada penulisnya. Itu artinya penulisnya membuat frase itu sendiri, jadi autentik.

Kelemahan : Kalau kamu tidak hati-hati menyeleksi, ceritamu bisa terkesan ‘pamer’. Hanya supaya terlihat keren, kamu tergoda untuk memasukkan kata yang ‘agak berat’, padahal kalimatnya sudah cukup bagus kalau pakai kata yang sederhana. Ini bisa membuat pembaca pusing membacanya.

Cara menyiasati : Setelah mengetik cerita sampai selesai, coba baca ulang ceritamu. Tapi posisikan dirimu sebagai pembaca. “Apa pembaca akan ngerti kalo aku tulis seperti ini?” Jangan lihat ini sebagai beban, tapi sebagai senjata. Kalo ada yang terasa tidak pas, atau terkesan memaksa, segera hapus walaupun itu bagian favoritmu. Cari cara lain untuk mendeskripsikannya, tanpa menghilangkan bagian penting dari kalimat itu.

Contoh :

Kinal tak mengenalinya saat ia datang.
Bunyi lonceng pintu tak terdengar karena suara celotehan pelanggan di café Harmony yang begitu ramai. (eksplisit)

Kinal tak mengenalinya saat ia datang.
Bunyi lonceng pintu kala dibuka kalah dengan suara celotehan pelanggan di café Harmony yang mendesaki udara. (implisit)

 
#2 Mendetail


Kamu senang menjelaskan sesuatu secara mendetail? Entah itu setting, suasana, bahasa tubuh bahkan karakteristik fisik tokoh? Kalau begitu, mungkin kamu cocok dengan gaya nulis ini. Kunci dari gaya menulis ini adalah kalimat yang tidak bertele-tele dan keruntutan dalam mendeskripsikan.

Genre yang cocok pada umumnya : semua genre.

Kelebihan : Pembaca dapat merasa akrab dengan ceritamu lebih cepat, karena kamu mendeskripsikan dengan spesifik. Apalagi kalau kamu mendeskripsikan bahasa tubuh tokoh ceritamu, pasti ceritamu lebih ‘terasa’, lebih ‘gigit’ atau ‘greget’.

Kelemahan : Bisa jadi membosankan, klise, mudah ditebak, terutama kalo diksi tidak bervariasi, terlalu panjang (bertele-tele) atau tidak runtut.

Cara menyiasati : Gunakan berbagai cara yang berbeda untuk mendeskripsikan hal yang sama. Hindari mendeskripsikan hal yang sama berulang-ulang, dengan gaya yang monoton pula. Hapus kalimat yang tidak efektif. Coba jelaskan dari yang ruang lingkupnya besar, hingga ke yang ruang lingkupnya kecil. Jelaskan dari luar ke dalam. Dari atas ke bawah.

Contoh :

Rambutnya pirang pucatnya bergerak pelan saat dibelai angin. Manik matanya senada dengan permata zamrud. Hidungnya mancung namun mungil, terlihat proporsional dengan wajahnya. Belum lagi dengan bibir tipis yang tak pernah enggan untuk menyunggingkan senyum. Ia adalah magnet untuk para pria. Dan salah satu dari mereka adalah aku.

(urutan : dari rambut, mata, hidung, bibir, alias dari atas ke bawah).

Matahari sedang bersemangat saat aku menginjakkan kakiku di salah satu taman umum London. Ah, betapa aku berterima kasih pada pohon-pohon hijau yang menaungiku. Bagai seorang putri mereka memayungiku di sisi jalanan dengan dahan-dahan perkasanya, membuatku bebas menyusuri taman.

Berbagai orang berlalu lalang, yang diam-diam kupandangi. Ada yang berjalan dengan tergesa-tegas. Ada yang bersepeda sambil berbicara dengan rekannya. Ada yang berangkulan mesra.

Sesaat aku tersadar, aku sudah mengelilingi taman terlalu lama. Mungkin sekitar lima belas menit? Aku kembali ke tempat kami berjanji akan bertemu, sambil sesekali mengecek riasan wajahku di cermin kecil di dalam tas. ‘Cantik,’ pikirku, tanpa mampu menyembunyikan senyum.

Semoga saja dia akan terkesan dengan penampilanku. Perutku mual, cemas bahwa aku bisa saja merusak kesan pertamanya setelah lima tahun tak bertemu.

(urutan : dari cuaca, suasana taman, keadaan orang-orang di sekitar tokoh, penampilan tokoh, perasaan tokoh, alias dari luar ke dalam)


#3 To-the-point


To-the-point adalah alias dari ‘eksplisit’ dan ‘tersurat’. Bisa dibilang kamu menceritakan sesuatu secara blak-blakan, ceplas ceplos, apa adanya. Kunci dari gaya menulis ini adalah diksi yang bervariasi dan ‘save the best for the last’.

Genre yang cocok pada umumnya : genre yang ringan seperti romance, humor dan cerita yang bertema teenlit.

Kelebihan : Sangat, sangat, sangat menghibur. Kalau kamu sering menggunakan sarkasme, itu artinya kamu cocok dengan gaya menulis yang satu ini. Yang saya suka dari gaya menulis ini adalah pembaca tidak perlu banyak berpikir, tapi cerita tetap berbobot. Ini adalah ciri-ciri cerpen berkelas; dari permukaan terlihat ringan tapi banyak yang bisa dikupas dari dalamnya. Gaya menulis ini juga tidak bertele-tele, jadi kamu bisa fokus ke satu poin tanpa akhirnya nanti jadi melebar kemana-mana.

Kelemahan : Kalo diksinya tidak bervariasi, bisa jadi super boring. Apalagi kalau kamu membicarakan hal yang sama berulang-ulang. Selain itu, kalau kamu tidak mengolah gaya bahasa ini dengan baik, pembaca jadi manja. Kenapa? Karena semuanya di beri tahu, dan tidak ada lagi yang menarik bagi pembaca untuk cari tahu dari ceritamu.

Cara menyiasati : Coba buat diksi lebih variatif, seperti tidak mengulang kata yang sama berulang-ulang. Jangan memanjakan pembaca dengan memberi tahu semuanya, misalnya dari awal cerita kamu sudah jelaskan sifat tokoh utamamu dari A-Z. itu tidak menarik. Simpan poin-poin bagus ceritamu di akhir cerita, seperti twist, atau kejutan yang tidak terduga, atau satu masalah kecil (masalah yang gak lebih besar dari masalah utamanya).

Contoh : bisa kamu lihat di poin satu ;)

Ini semua adalah gaya menulis yang Saya tahu :D Ingat, tidak ada gaya menulis yang lebih baik/buruk. Semuanya bisa jadi daya tarik tersendiri atau ciri khas kamu. Dan kamu tidak perlu memilih satu jenis gaya nulis aja. Kamu bisa memadukannya, atau memakai gaya nulis tertentu hanya saat kalo lagi mood/butuh.

Kalo masih bingung, jangan segan-segan bertanya lho ;) Ada gaya nulis lain yang terpikirkan oleh kamu, silakan beri tahu di kolom komentar ya ^o^ Saya akan senang sekali untuk mendengar saran dan kritik dari kamu.

Referensi : Hasil eksplorasi sendiri dalam menulis dan membaca karya orang lain selama ini. 

HAYO, TANTANG DIRIMU!  Masih ragu apa gaya menulis yang cocok denganmu? Nah coba kamu mendeskripsikan scene berikut dengan 3 gaya menulis di atas. Cari gaya menulis mana yang lebih nyaman ya ;)

Ada seorang gadis yang tengah sekarat di sebuah rumah sakit. Karena hujan, ia teringat bahwa dulu ia pernah ditraktir sahabatnya makan bakso di pinggir jalan. Dia pun kangen pada sahabatnya tersebut, namun ia tak tahu sahabatnya dimana karena telah putus kontak. Tak lama kemudian, saat sahabatnya datang untuk menjenguknya, gadis itu telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Selamat menulis, teman!


42 komentar:

  1. manis banget blog km yah kaya orangnya

    d tunggu kunjungannya ya mba

    BalasHapus
  2. Aku malah tambah rancu sama diriku sendiri, aku tipe yang mana ya? #Galau

    BalasHapus
  3. Bingung sendiri aku termasuk tipe yang mana....

    BalasHapus
  4. ... << tambah bingung masuk gaya yang mana.

    Tapi, ternyata deskripsinya itu dari atas ke bawah ya? Saya seingatnya aja... #plak

    BalasHapus
  5. kayaknya aku gabuangan antara implisit dan mendetail deh...
    aku sering pake keduanya... hehe

    BalasHapus
  6. ahhh~ kayaknya aku termasuk semuanya deh XD
    tiap fic gaya menulisku beda. di genre adv aku pake yang mendetail. di genre romance (yg sekarang) aku pake yg implisit, dulu waktu pertama kali nulis, aku pake yg to the point XD
    semuanya nyaman sih. cuma kalau aku mau pake yg mendetail untuk melanjutkan fic adv, vocabnya berasa kurang, klise, apalagi itu pov 3, jadi agak terlalu susah menurutku. beda banget kalau nulis pake pov 1, pake gaya implisit, lancaaar jaya --" vocab asing yang sebelumnya belum pernah aku pake pun tiba-tiba muncul.

    BalasHapus
  7. rasanya tipe nulis saya malah ambigu, nggak jelas yang mana
    tapi kayaknya campuran ekplisit, mendetail sama to the point

    BalasHapus
  8. @all : iya awalnya pasti ambigu, tapi kan gak ada gaya menulis yang mutlak, bisa dicampur2/diganti sesuai kebutuhan, tanpa menghilangkan ciri khas kita sebagai penulis :3 gutlak ya, dalam menemukan ciri khasnya ;DD

    BalasHapus
  9. kayaknya gaya menulisku labil, suka ganti-ganti sesuai suasana hati >.<

    BalasHapus
  10. tipe yang mana ya gue? kayaknya orang lain yang lebih bisa menilai deh .__.)

    BalasHapus
  11. mungkin bukan plagiat ya, karena emang karakter nya mungkin sama, kebetulan aja kali ya. karena kan emang sekarang lagi trend yang gitu-gitu, ya mau ga mau pasti ada yang sama, mungkin. gua sendiri ga tau, ada yang mirip atau engga sama cara nulis gua. yang penting gua sih udah percaya diri kalo ini tulisan gua dan ini diri gua. ngomong-ngomong keren nih postingan nya, wajib di bookmark :)

    visit ya http://officialbronis.blogspot.com/2013/11/terios7wonders-habis-indah-terbitlah.html makasih.

    BalasHapus
  12. Aku biasa gonta-ganti gaya tergantung mood. Kalo lagi seneng, ya tulisannya asik kalo lagi mendung ya tulisannya bikin bete.. hehehe.. tapi semua tulisanku kayaknya bergaya campuran antara to the point sama mendetail.. kelihatannya sih :D

    BalasHapus
  13. Kalo tulisan ane yang di http://indrathrw.com termasuk kategori mana nih? hehe

    BalasHapus
  14. bagus nih ya postnya. nambah ilmu juga.
    jadi tau gimana seharusnya penulisan deskriptif.
    makasih ya

    BalasHapus
  15. Gue masih labil nih. Tulisannya gak nentu, suka gonta-ganti gitu.
    Mungkin suatu saat ada pencerahan haha

    BalasHapus
  16. Nice, post...
    Saya masih bingung gaya menulisnya apa.
    Iya, maklum. Masih amburadul. Hahaha. :))

    BalasHapus
  17. yang mendetai itu yang ribet. kadang saking detailnya sampek out of topic hahaha

    BalasHapus
  18. wah, tampaknya saya bisa digolongkan 'mendetail' tapi yang masih amatir sampai-sampai bikin yang baca boring sendiri, haha

    BalasHapus
  19. Wah, postingan kamu keren, nak.

    BalasHapus
  20. Hmm, masih dalam tahap pencarian :3

    BalasHapus
  21. @deanova : aku juga awalnya gitu kok hehehe

    @nisedogawa : wkwkwk bisa jadi XD <- eat bulaga (?)

    @gebiway : gutlak! ;Db

    @septian : makasih papa (???)

    @arif : sip, dia udah tau XD

    @anonim : itu kan bisa disiasati :)) semangat!

    @shakti : bener banget! wkwkwk

    @rahmat : kan bisa dicari :DD

    @aji : sippp (y)

    @zegaisme : sama2 :3

    @devananda : tenang aja ntar ketahuan sendiri kok XD

    @herdian : bener tuh wkwkwk thank you ;)

    BalasHapus
  22. hai, asha.
    tulisan dan penjelasan yg bagus.
    saya kadang suka menulis yg mendetail.
    apa eksplisit dan implisit bisa atau boleh bercampur dlm sebuah cerita?? ohhh, saya suka penjelasan implisit yg kamu tulis. tapi benar apa yg kamu jelaskan, apa pembaca mengerti apa yg kita tulis??

    - gadis dengan garis wajah cantik dan putih, rambutnya yang panjang hitam tergerai sedikit kusut karena selalu terbaring di atas ranjang rumah sakit, warna matanya redup padahal gadis itu memiliki mata yang indah dan tatapan lembut pada atap langit rumah sakit, bibirnya tak begitu indah terlihat kering.

    maaf segini dulu, saya masih belajar. thx.
    mohon bantuannya.

    BalasHapus
  23. Infonya sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
  24. manik birunya masih memandang ke luar jendela. Tak bosan-bosannya ia mengamati setiap air yang jatuh pada genangan itu, menyisakan suara yang familiar dan menenangkan untuknya.
    Hujan, membuatnya kembali pada kenangan lamanya.
    Ia masih ingat saat Sarah, teman masa kecilnya, yang tiba-tiba lari menghampirinya di halte dengan senyum lebarnya dan berucap,
    "mau bakso?"

    Dan sekarang ia tidak akan mencoba untuk mengingat apa yang terjadi selanjutnya.
    Hal yang sangat membahagiakan, sehingga ia terlalu takut untuk mengingatnya kembali.

    Bagaimana jika kebahagiaan itu sudah sirna?
    Bagaimana jika selamanya Sarah yang menyebalkan itu tidak akan pernah ada lagi untuknya?

    Itu membuatnya takut. sangat takut.

    Dan sore itu, dalam ketakutannya, Sarah menghubunginya.

    Sudah lama sekali, ya. Sejak insiden itu...

    Mungkin Sarah terlalu sibuk. Ia sendiri tidak berani mengganggunya sedikit pun.
    Justru ia berpikir, jika ada yang membuat Sarah terganggu, ia lah alasannya.

    "hei! bagaimana keadaanmu?"

    Hening. Jangan salahkan dirinya jika ia terlalu sulit berbicara.

    Bukan. Bukan karena ia terlalu bahagia atau hal ini membuatnya diam.
    Lidahnya kelu, sakit, bahkan satu kata pun ia tak sanggup.
    Ia meremas ranjang miliknya, merasa ada yang salah.

    "baiklah. aku akan kesana."

    Entah mengapa bagian dari dirinya merasa tidak rela sambungan telepon Sarah terputus.
    Ia pikir, ini akan menjadi yang terakhir.
    Suara itu akan menjadi suara yang terngiang dalam tidur panjangnya.
    Tapi tidak. Semoga.

    Pandangannya kembali pada jendela. Hujan itu mereda, membuat hatinya mendadak tak karuan.
    Semua ingatannya kembali mengusik, namun kini ia masih berusaha tenang.

    Sarah akan kembali...

    Ia terus melafalkan kata itu, seakan Sarah adalah satu-satunya yang bisa ia harapkan sekarang.
    Memang benar. Sarah segalanya, untuknya.

    hingga ingatannya berakhir pada ucapan Sarah di telepon.

    Ah, suara itu...
    tenang sekali rasanya.

    Ia merasa akan lebih tenang jika menunggu Sarah dengan sedikit berbaring di ranjang berbau obat miliknya.
    Dengan sombongnya ia mengabaikan cairan infus yang kian menipis. Ia merasa tidak ada gunanya lagi bertahan dengan benda itu.
    Ia mulai menangis, namun tak mengerti apa hal yang ia tangisi.

    Dan sore itu ia terlelap, dengan air di sudut matanya, yang kini berhenti seiring hujan.
    Tak ada celah untuk matahari, semua gelap.
    tetesan terakhir itu akan menjadi pertanda, saksi, dan bukti...

    Bahwa hidupnya itu akan terasa lebih bermakna, jika saja ia tidak menuruti matanya yang berat selama menunggu Sarah kembali.
    Ketika matanya mulai terpejam, tak ada lagi memori yang terputar.
    Tak ada lagi suara Sarah yang terngiang.
    satu hal yang membuatnya ingin menangis; bukan ini yang ia mau.

    Walau Sarah kini telah benar-benar kembali, mengapa ia yang harus pergi?

    -------------

    emm... Asha... berdasarkan challenge yang kamu berikan di artikel ini ._.)
    bisakah kau mendeteksi ciri khas ku ? TuT //slap
    dan mohon krisarnya juga ;w; <333

    BalasHapus
  25. Menulis kreatif, jempol buat agan.

    BalasHapus
  26. Makasih bgt bro info nya, sangat bermanfaat buat anak saya. hehe
    Jangan Lupa mampir ke blog EXPO Lowongan Kerja Terbaru ane ya Lowongan Kerja PT. INKA Multi Solusi

    BalasHapus
  27. Susah jga ya trnyata. Aku slma ini pke yg implisit. Pas coba yg mendetail, beuhh bda jauh :v
    intinya dgn adanya blog ini, aku bsa tau apa yg dmksd gaya menulis. Krna slama ini aku hnya bsa merasakannya.

    BalasHapus
  28. memang tiap orang memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda ya :D sudahlah, saya memakai penulisan apa adanya saja hehehe

    BalasHapus
  29. Mary terkapar lemah di ranjangnya. Untaian selang infus yang melingkar di lengan memang membuatnya sedikit kesulitan bergerak. Tapi bukan itu masalahnya. Dia merasakan tubuhnya kaku, dingin, pandangannya sedikit kabur. Daritadi wajahnya tidak lepas dari memandang jendela di samping kirinya. Buliran air yang mengalir pada kaca itu nampak seperti serat-serat akar. Matanya sesekali berkilau terkena kilauan cahaya petir yang terus bergemuruh di luar sana.
    Tiba-tiba lintasan pikirannya teringat pada sosok Ravi, teman lama yang kini entah berada di mana. Bibirnya tersenyum lesu membayangkan wajah Ravi yang sangat merah ketika menyantap bakso yang diam-diam sudah diberi sambal yang sangat banyak. Mendadak, tempat makan kaki lima itu menjadi meriah. Ravi yang mulutnya merasa seperti terbakar, meronta-ronta meminta air ke setiap pengunjung yang datang. Membuat suara gelak tawa di tempat itu mampu memecah suara deras air hujan yang terus mengguyur.
    Itu adalah bentuk perayaan yang asyik bagi Mary. Saat itu Ravi baru saja diterima bekerja di perusahaan yang diimpikannya. Berbekal sepeda motornya, Ravi bermaksud mentraktir Mary makan di restoran favorit mereka. Tapi sialnya, hujan memaksa Ravi memarkirkan motornya di tempat makan apa pun yang dia lihat di pinggir jalan.
    "yaahhh, bakso aja ya," Ravi terkekeh, dalam hati ia berterima kasih pada hujan. Makan di sini kayaknya lebih murah, batinnya.
    Sementara Mary tak peduli makan di mana pun, ia cukup senang mendengar kabar baik dari sahabat terbaiknya itu.

    Hujan mengingatkannya pada kejadian itu. Dalam hati, ia sangat ingin bertemu dengan Ravi setidaknya sekali lagi. Entah mengapa, ada perasaan aneh yang berkata kalau kesempatan untuk bertemu dengannya tidak terlalu banyak.
    Langit-langit di ruang ICU itu kini lebih kabur. Pelupuk matanya berair.
    Seluruh badannya kini benar-benar terasa kaku, sangat dingin ... bukan karena di luar sedang hujan, bukan karena tiupan AC di dalam ruangan, dingin ini semakin dingin ...
    Wajah Ravi yang ada dalam bayangannya semakin gelap, gelap dan menjauh ... terus menjauh ...

    Selang beberapa saat, seorang pria masuk ke ruangan itu tergesa-gesa. Wajahnya yang cemas berubah menjadi pilu saat melihat garis hijau itu berjalan lurus. Ia tak sanggup membendung air matanya yang mengalir deras saat membelai kening gadis itu yang sangat dingin. Dipandangnya wajah gadis yang sangat dikenalinya itu. Wajah ceria itu kini terlihat sangat pucat. Di ujung matanya terlihat bekas air mata yang sudah mengering.
    Ada perasaan sesal yang amat dalam dirasakan pria itu. Andai saja aku lebih cepat mengetahuinya ...
    Dalam dekapan pria itu, Mary tidak akan pernah tau kalau sahabatnya itu datang.

    kalo ini apa namanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurutku sih To the poin mbak.. =)

      Hapus
    2. Mas, maaf saya gak liat namanya.. :)

      Hapus
  30. Sejak Anya dirawat di rumah sakit cuaca diluar selalu tidak bersahabat, seolah mendukung penyakitnnya untuk terus bersemayam dalam tubuh kecilnya. Ia ingin melihat langit cerah walaupun hanya sekali, dan merasakan hangat sinar mentari menembus jendela dan menerpa wajahnya. Kedua bola matanya sudah bosan menatap langit - langit kamar yang stagnan dan lorong gelap yang membuat malamnya menjadi penuh teror.

    "Tolong, jangan sekarang!"

    Kalimat itu yang selalu terlontar dari bibirnya yang mulai pucat. Saat rasa nyeri itu mulai menghantui ia selalu mengucapkan hal yang sama sambil berharap sang pemilik hidup mengulur waktu kematiannya. Anya sudah berjuang cukup lama melawan kanker itu, lebih lama dari vonis Dokter yang mengatakan harapan hidupnya mungkin hanya enam bulan namun gadis itu bertahan hampir setahun.

    Beberapa hari yang lalu kesehatannya makin memburuk, memaksanya terbaring di atas ranjang pesakitan dengan peralatan medis menempel di tubuh dan wajahnya. Gadis itu lelah dan sudah sampai pada batasnya.

    "Mah, tolong buka gordennya ya. Anya mau lihat ke luar,"

    Wanita paruh baya itu menuruti anaknya dengan segera. Walaupun membenci hujan, Anya ingin melihat langit gelap untuk yang terakhir. Rintik hujan dan jejak air membekas di jendela membuat alur yang indah walaupun sesekali ia terganggu dengan cahaya kilat yang menyambar. Langit gelap itu mengingatkannya akan suatu tempat di muka bumi yang sangat familiar. Waktu itu cuaca juga sedang tidak bersahabat, langit mendung dan terasa sangat lembab. Semangkuk bakso yang ia nikmati bersama Karin terasa sangat nikmat di tengah hujan yang turun sangat deras.

    "Aku akan merindukan bakso ini lagi Anya,"
    "Kalau begitu mengapa harus pergi Rin? Jika kamu tetap disini aku akan mengajakmu makan bakso setiap hari,"
    "Aku juga tidak menginginkan hal ini, asal kamu tahu saja"

    Alasan Anya membenci hujan sederhana. Butiran air, cuaca dingin berangin dan kilatan petir itu telah merebut sahabatnya. Masih terekam dalam otaknya Karin pergi begitu saja di tengah hujan. Ia tidak mampu menghetikan taksi yang membawa sahabatnya pergi menjauh menuju belahan bumi yang begitu jauh. Jarak yang tidak akan mungkin bisa di tempuh dengan tubuh lemahnya.

    "Kamu dimana Karin? Aku ingin makan bakso itu lagi,"

    _________________________________________________________________________

    "Anya!"

    Seorang gadis berambut pirang muncul dari balik pintu, senyuman di wajahnya seketika pudar melihat sosok tubuh yang ditutupi kain putih. Rangkaian bunga yang ia genggam jatuh berserakan, hatinya hancur berkeping - keping. Dengan segera ia menyambar tangan Anya dan membuka kain putih yang menutupi wajah pucat sahabatnya. Air mata mengalir membasahi pipinya seakan sedang berlomba dengan air hujan yang juga turun membasahi jendela ruangan itu.

    "Anya, ayo kita makan bakso lagi,"
    __________________________________________________________________________



    BalasHapus
  31. bagus,, saya bookmark ya, heheh

    BalasHapus
  32. keren,btw... itu yg contoh nomer 1 dapet dari ff wattpad kah? :D

    BalasHapus
  33. keren,btw... itu yg contoh nomer 1 dapet dari ff wattpad kah? :D

    BalasHapus
  34. Gaya Menulis Saya lebih memperhatikan Plot

    BalasHapus
  35. Gaya Menulis ... inilah yang aku cari. Banyak penulis tidak memerinci dan memberi nama macam-macam gaya menulis seperti Anda. Bagus untuk refensi.

    BalasHapus
  36. sangat mantap... harus keep write terus ini mah

    BalasHapus

Hello there my friends! Feel free to give your :
¤ Opinion
¤ Suggestion
¤ Critic
¤ Story link (so that we can give comment to each other stories!)
¤ Request (if you want me to write something, just ask!)
Remember, I’m also a struggling writer, so I’m perfectly imperfect. Your feedback are pleased =)